Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) Piutang

Akuntancilik.com Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) PiutangPiutang adalah klaim suatu perusahaan kepada pihak lain. Hampir semua perusahaan atau entitas memiliki piutang kepada pihak lain baik itu yang berasal dari transaksi penjualan atau pendapatan atau dari transaksi lainnya. Piutang adalah bagian dari aset lancar yang sifatnya sangat liquid, artinya dengan cepat dijadikan kas.

Piutang dikategorikan sesuai dengan jenis usaha suatu perusahaan. Pada perusahaan dagang dan perusahaan manufakur jenis piutang yang muncul adalah piutang dagang dan piutang lainnya. Piutang yang terkait dengan penjualan disebut dengan piutang usaha. Jika pada perbankan, piutang merupakan kredit yang disalurkan kepada pihak lain. Jika pada perusahaan pembiayaan (multifinance), piutang diklasifikasikan berdasarkan jenis pembiayaan, misalnya piutang pembiayaan konsumen, piutang pembiayaan sewa, dan piutang pembiayaan kartu kredit.

Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) Piutang
Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) Piutang

Jadi apakah pengertian piutang? Apakah definisi piutang? Apa yang dimaksud dengan piutang?

Pengertian Piutang

Seperti yang telah disebutkan diatas, piutang merupakan klaim suatu perusahaan kepada pihak lain. Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, piutang menurut sumber terjadinya dikategorikan menjadi dua yaitu piutang usaha dan piutang lain-lain.

Pengertian piutang usaha adalah piutang yang berasal dari penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit.

Pengertian piutang lain-lain adalah piutang yang terjadi akibat transaksi diluar kegiatan usaha normal perusahan.

Beberapa contoh yang dapat digolongkan sebagai piutang, yaitu:
  • Piutang usaha
  • Wesel tagih
  • Piutang pegawai
  • Piutang bunga
  • Uang muka
  • Uang jaminan
  • Penyisihan piutang tak tertagih
  • Piutang lain-lain


Tujuan Pemeriksaan Piutang

Setelah mengetahui tentang pengertian piutang dan apa saja yang dapat digolongkan sebagai piutang, sekarang akan di bahas pokok dari artikel ini yaitu tujuan dari pemeriksaan piutang. Berikut ada beberapa tujuan dari pemeriksaan atau audit piutang, yaitu:

1. Untuk mengetahui bagaimana pengendalian intern (internal control) atas piutang dan transaksi penjualan, penerimaan kas.

Tujuan utama dari pemeriksaan piutang adalah untuk mengetahui apakah pengendalian intern atas piutang, penjuaan, dan penerimaan pada perusahaan sudah berjalan dengan baik.

2. Untuk memeriksa keabsahan dan keotentikan daripada piutang.

Tujuan ini maksudnya adalah apakah piutang yang dimiliki oleh perusahaan tersebut adalah sah, masih berlaku, serta piutang-piutang tersebut apakah didukung oleh bukti-bukti yang otentik.

3. Untuk memeriksa kemungkinan tertagihnya (collectibility) piutang dan cukup tidaknya perkiraan piutang tak tertagih.

Tujuan pemeriksaan piutang yang selanjutnya adalah collectibility dan allowance for bad debt. Maksudnya adalah untuk memastikan bahwa piutang harus disajikan pada neraca sebesar jumlah yang diperkirakan bisa ditagih. Sedangkan piutang yang tidak bisa ditagih harus dibuatkan penyisihan dalam jumlah yang cukup.

4. Untuk memeriksa apakah terdapat kewajiban bersyarat yang timbul akibat pendiskontoan wesel tagih.

Tujuan pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan terhadap wesel tagih apakah terdapat kewajiban bersyarat. Apabila perusahaa mepunyai wesel tagih yang didiskontokan ke bank sebelum tanggal jatuh temponya, maka pada tanggal neraca harus diungkapkan adanya kewajiban bersyarat atas pendiskotoan wesel tagih. Perusahaan harus melunasi wesel tersebut beserta bunganya apabila pada saat jatuh tempo si penarik tidak sanggup melunasi wesel tersebut ke bank.

5. Untuk memeriksa penyajian piutang di neraca apakah sudah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan/SAK ETAP.

Bagaimanakah penyajian piutang yang sesui menurut Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia? Menurut Standar Akuntansi Keuangan, yaitu:
  • Piutang usaha, wesel tagih, dan piutang lain-lain harus di sajikan secara terpisah.
  • Piutang dinyatakan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih.
  • Jika jumlah saldo kredit piutang individual jumlahnya material, maka harus disajikan ke dalam kelompok kewajiban.
  • Jika tedapat piutang yang dijaminkan, maka jumlahnya harus diungkapkan ke dalam catatan atas laporan keuangan.
  • Kewajiban bersyarat dalam hubungan dengan penjualan piutang yang disertai perjanjian untuk dibeli kembali kepada suatu lembaga keuangan harus dijelaskan secukupnya.


Baca Juga:

Demikiannlah sedikti penjelasan mengenai Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) Piutang. Semoga apa yang ada dihalaman ini bisa bermanfaat dan bisa menambah referensi dalam belajar. Sekian dan terima kasih.